Oleh Evelyn Matilda Gracela Silaen, 4B
Dari langit; Untuk tuan yang namanya
tak dapat ku sebutkan.
~
Tak apa ya hati? Hari ini kamu harus
kembali mengambil robekan-robekan ingatan yang sudah lama kamu simpan di dalam perasaan.
~
Saya harap ketika kamu menemukan
surat ini, kita sedang menatap langit yang sama, sambil mendengarkan lagu yang
sebenarnya berirama, namun hati berkata, "Cukup, saya muak dengan
semuanya."
Setelah melewati jutaan detik,
ribuan jam bahkan ratusan malam, akhirnya saya memutuskan untuk menulis sepucuk
surat ini yang maaf, mungkin diksi dan isi didalamnya tak se-berani Chairul
Anwar ataupun se-indah Sapardi Djoko Darmono.
~
Sebenarnya ini tidak mudah,
meluapkan hal-hal yang sudah lama terpendam, namum belum juga
teredam, sekiranya ada
bertahun-tahun lamanya.
Namun, sebelum kamu melanjutkan ke
paragraf selanjutnya, izinkan saya untuk pamit terlebih dahulu.
Terima kasih pernah bertamu di rumah
saya yang sudah lama berdebu.
Maaf, kalau saya tidak pernah
menjamu, karena kamu tidak pernah datang lagi, setelah hari itu.
Sepertinya, sedikit pembukaan itu
saja sudah berhasil membuka kembali jahitan dan juga kenangan yang sudah lama
saya tanam dalam-dalam. Namun itu tidak akan meruntuhkan benteng pertahanan
yang sedari lama saya pertahankan karena orang-orang yang berhasil menjatuh
bangunkan kehidupan. Kalau begitu, terima kasih kepada kalian.
Sudahlah, tidak perlu bertele-tele,
saya rasa kamu pasti sudah paham dengan jalan ceritanya, atau pun inti dari
surat ini. Sudah terpampang nyata di awal pembukaan, bukan?
~
Singkat ceritanya seperti ini, gadis
kecil yang
baru saja beranjak dewasa itu,
mengalami patah hati kali pertamanya. Lalu, dirimu hadir di dalam kehidupannya.
Sebenarnya, dirimu tidak datang dan menawarkan diri, hanya aku yang
mengundangmu masuk ke dalam kehidupanku. Lalu membuat cerita, seolah-olah kita
adalah dua insan yang sengaja dipertemukan untuk saling membahagiakan. Padahal,
bukan seperti itu jalan ceritanya. Aku mengagumimu, kamu tidak. Aku
mengidolakanmu, kamu tidak. "AKU MENCINTAIMU, DAN KAMU TIDAK ,
BAHKAN SEPERTINYA TIDAK AKAN
PERNAH."
Sedih, bukan? Menjalani kisah cerita
yang ditulis sendiri, merangkai alur ceritanya sendiri, dan menjadi tokoh utama
dalam ceritanya itu sendiri.
Kamu? Hanya sebagai tokoh figuran,
disini akulah yang berperan. Tak apa, kamu tak perlu merasa bersalah. Aku hanya
tak mau membuat mu lelah jika harus berperan sebagai tokoh utama juga. Walaupun
aku tahu, kamu takkan pernah menghiraukannya.
Ini kali ke-4 tahun aku menulis,
sekaligus menjalani peran dalam ceritaku tersebut. Aku
tahu kamu menyadari, namun kamu
tidak pernah memahami. Atau mungkin, kamu menganggap perasaanku hanyalah sebuah
obsesi. Atau yang lebih parahnya, kamu tidak peduli? Apapun itu, aku akan tetap
mencintaimu, dulu.
Sekarang aku akan berhenti, sesuai
dengan awal pembukaan dari surat ini. Berhenti dari semua yang berkenaan
tentang dirimu.
Semua terasa baik-baik saja walau
tanpamu. Karena memang nyatanya, kamu tidak pernah ada. Terima kasih, ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar