Selasa, 14 September 2021

SURAT KECIL UNTUK TUAN

 

 

 

Oleh Evelyn Matilda Gracela Silaen, 4B

 

Dari langit; Untuk tuan yang namanya tak dapat ku sebutkan.

 

~

Tak apa ya hati? Hari ini kamu harus kembali mengambil robekan-robekan ingatan yang sudah lama kamu simpan di dalam perasaan.

 

~

Saya harap ketika kamu menemukan surat ini, kita sedang menatap langit yang sama, sambil mendengarkan lagu yang sebenarnya berirama, namun hati berkata, "Cukup, saya muak dengan semuanya."

 

Setelah melewati jutaan detik, ribuan jam bahkan ratusan malam, akhirnya saya memutuskan untuk menulis sepucuk surat ini yang maaf, mungkin diksi dan isi didalamnya tak se-berani Chairul Anwar ataupun se-indah Sapardi Djoko Darmono.

 

~

Sebenarnya ini tidak mudah, meluapkan hal-hal yang sudah lama terpendam, namum belum juga

 

teredam, sekiranya ada bertahun-tahun lamanya.

Namun, sebelum kamu melanjutkan ke paragraf selanjutnya, izinkan saya untuk pamit terlebih dahulu.

Terima kasih pernah bertamu di rumah saya yang sudah lama berdebu.

Maaf, kalau saya tidak pernah menjamu, karena kamu tidak pernah datang lagi, setelah hari itu.

 

Sepertinya, sedikit pembukaan itu saja sudah berhasil membuka kembali jahitan dan juga kenangan yang sudah lama saya tanam dalam-dalam. Namun itu tidak akan meruntuhkan benteng pertahanan yang sedari lama saya pertahankan karena orang-orang yang berhasil menjatuh bangunkan kehidupan. Kalau begitu, terima kasih kepada kalian.

 

Sudahlah, tidak perlu bertele-tele, saya rasa kamu pasti sudah paham dengan jalan ceritanya, atau pun inti dari surat ini. Sudah terpampang nyata di awal pembukaan, bukan?

 

~

Singkat ceritanya seperti ini, gadis kecil yang

baru saja beranjak dewasa itu, mengalami patah hati kali pertamanya. Lalu, dirimu hadir di dalam kehidupannya. Sebenarnya, dirimu tidak datang dan menawarkan diri, hanya aku yang mengundangmu masuk ke dalam kehidupanku. Lalu membuat cerita, seolah-olah kita adalah dua insan yang sengaja dipertemukan untuk saling membahagiakan. Padahal, bukan seperti itu jalan ceritanya. Aku mengagumimu, kamu tidak. Aku mengidolakanmu, kamu tidak. "AKU MENCINTAIMU, DAN KAMU TIDAK , BAHKAN  SEPERTINYA TIDAK AKAN PERNAH."

 

Sedih, bukan? Menjalani kisah cerita yang ditulis sendiri, merangkai alur ceritanya sendiri, dan menjadi tokoh utama dalam ceritanya itu sendiri.

Kamu? Hanya sebagai tokoh figuran, disini akulah yang berperan. Tak apa, kamu tak perlu merasa bersalah. Aku hanya tak mau membuat mu lelah jika harus berperan sebagai tokoh utama juga. Walaupun aku tahu, kamu takkan pernah menghiraukannya.

 

Ini kali ke-4 tahun aku menulis, sekaligus menjalani peran dalam ceritaku tersebut. Aku

tahu kamu menyadari, namun kamu tidak pernah memahami. Atau mungkin, kamu menganggap perasaanku hanyalah sebuah obsesi. Atau yang lebih parahnya, kamu tidak peduli? Apapun itu, aku akan tetap mencintaimu, dulu.

 

Sekarang aku akan berhenti, sesuai dengan awal pembukaan dari surat ini. Berhenti dari semua yang berkenaan tentang dirimu. 

 

Semua terasa baik-baik saja walau tanpamu. Karena memang nyatanya, kamu tidak pernah ada. Terima kasih, ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Aku yang Kau Sebut Rumah

 Oleh Auliya Tri Handayani, PBSI 19   Matahari mulai menggema, gelora warna jingga mengawali pagi. Tas punggung tlah siap menjelajahi wa...