Selasa, 14 September 2021

Bukan Aku yang Kau Sebut Rumah

 Oleh Auliya Tri Handayani, PBSI 19

 

Matahari mulai menggema, gelora warna jingga mengawali pagi. Tas punggung tlah siap menjelajahi waktu, di mana nasi padang teramat sulit ku temui.

Di dalam kabin berulang kali ku atur pola napas, berusaha tenang dengan memanjatkan ratusan doa dalam benak. Ku serukan perlahan kata basmallah ketika pragumari dengan anggun menyerukan bahwa kabin akan terbang.

"Bismillah."

Kabin pun meluncur mulus, selurus mimpi yang terlontar tak kala umurku belum genap 10 tahun.

Aku pun tiba pada sebuah kota dengan kehidupan nyaris sempurna seperti yang ku bayangkan. Seorang wanita berkulit putih dengan mata lentik bersantai di depanku.

"Hello, what's your name,” Ujarnya membuatku terperanjat membalas tatapannya.

"Hay, i'm resya. You?" Balasku cepat tak mampu melaraskan panik jantung ini.

"Hay, ca. I'm reyn. See you" Ucapnya beranjak pergi.

 

Waktu semakin larut, ku jelajahi sudut kota yang konon, dikatakan sibuk oleh warga nusantara. Sejurus ku berpikir, apakah mimpi yang terucap dalam sujudku benar selurus selayak tergambar diharapku?

Sementara hingga kini,  tak genap 6 bulan aku sudah bersusah payah kerja paruh waktu demi memenuhi kehidupan. Ku sadari, biaya hidup di kota ini berbanding jauh dengan yang ku terima dari ibu ataupun lembaga pendidikan.

Notifikasi kerap kacaukan lamunanku, dengan cepat ku raih handphone seraya membaca beberapa pesan di dalamnya.   Hati terasa mendidih, menatap ratusan pesan mengujarkan bahwa kepergianku belajar dianggap sama layak turis - turis.

Sudah berkali-kali ku jelaskan tapi, mereka bersikukuh bahwa kehidupanku amatlah hedon di negeri ini. Andai mereka tau, semua ini ku beli pada pasar lori dengan berbagai barang lama tumpahan gudang.

Satu pesan mengalihkan pikiranku, sosok wanita dengan kelakuan aneh yang sering ku lupakan tapi begitu membanggakan keberadaanku saat ini. Dalam pesannya ia berkata,

Aca kapan pulang?

Aca sehatkan?

Kapan-kapan kita vidcall ya, aku tunggu walaupun malem juga

Ia kerap kali  mengirimkan note singkat tuk sekadar menanyakan kabar, tak jarang balaspun nihil yang ia dapatkan. Sebab, teramat sibuk ku rangkai kata tuk membalas perkataan mereka.

 

Ditambah lagi hubungan asmaraku baru saja kandas, ku putuskan tuk pulang. Temui rumah dan payung - payung yang tak mengenal terik dan guntur.

Meski kadang, kerapku lupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Aku yang Kau Sebut Rumah

 Oleh Auliya Tri Handayani, PBSI 19   Matahari mulai menggema, gelora warna jingga mengawali pagi. Tas punggung tlah siap menjelajahi wa...