Selasa, 14 September 2021

Aku dan Hujan

 Oleh Bulle Rama Yandra, PBSI 2020

Kala itu langit sedang tidak bersahabat dengan alam. Suara rintik hujan yang terdengar membuat tetesan air mata berjatuhan. Hanya ada aku dan hujan. Kita berdua meratapi sepinya alam semesta yang mengingat kenangan. Rintik sendu yang membuatku terlelap dalam kenangan menyenangkan nan menyedihkan. Dengan kuseduhkan segelas kopi hangat yang membantuku meredakan tangisan.

Ku tepikan motor yang membawa kami karena hujan turun. Langit gelap gemuruh halus terdengar disana. Tawa ria walaupun keadaan yang tak memungkinkan untuk tertawa. Hal sederhana membuat kami bahagia adalah kunci yang kami pegang agar satu sama lain terjaga. Kelingking kami saling bersentuhan tanda melakukan perjanjian. Ya, perjanjian yang kami buat agar tetap bersama hingga hari tua. Setiap saat ku memandangi wajahnya membuatku sangat bersyukur memilikinya, ‘’kumohon aku ingin tetap bersamanya tuhan’’.

Canda tawa menunggu sang hujan berhenti membuat waktu terasa cepat walau sudah satu jam lamanya. Sang hujan yang membasahi alam semesta sudah reda. Segera aku menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan yang cukup basah membuat ku sangat berhati-hati membawanya. Segera ku akhiri pembicaraan agar aku fokus mengendarai.

Tiba di lampu merah yang membuat kami berhenti. Kami melanjutkan obrolan ringan namun penuh arti. Kulihat masih 119 detik lagi untuk berubah menjadi hijau. Lalu lintas yang sepi membuat dunia ini terasa milik berdua. Aku melepaskan tangan dan mengganggam tangannya yang sedang memelukku. Hangat bagai tangan ibu yang selalu ada dalam masa kecilku.

Tiba-tiba suara gaduh terdengar di belakang yang membuat kami menoleh. BRAK!. Suara tabrakan keras terjadi saat itu. Aku dan dia terbawa sangat jauh. Kami tergeletak dan saling bertatap dengan wajah yang penuh harap agar bisa selamat. Air mata kami berjatuhan berharap ambulance segera datang. Saat kumelihatnya seketika baju biru langit berubah menjadi merah pekat. Aku mencoba untuk berdiri apa daya diriku tak sanggup. dengan sekuat tenaga aku coba merangkak dan mengulurkan tangan, tapi kulihat dia sudah menutup mata. Aku menangis sejadi-jadinya dan tergeletak tak bergerak. Hujan mengguyur kita berdua.

Kubuka mata melihat sekeliling, tepat disampingku sosok papa selama ini tak kunantikan kehadirannya. Dia menatapku dengan penuh arti. Mata yang sedikit berkaca-kaca. Tak lama dia memelukku dengan erat ‘’Papa harap kamu bisa melewati semua ini’’. Kulepaskan pelukannya kemudian ‘’Maksud papa bicara seperti ini apa?apa?jawab pah, aku tak butuh pelukan dari papah.’’ Dia memelukku dengan sangat erat. Aku yang kesal saat itu menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain menangis.

Suara petir yang sangat keras membuatku terbangun dari mimpi buruk yang pernah kualami. Tangisan membahasahi wajahku yang kian berubah menjadi kenangan pahit. Sekarang, yang paling kubenci adalah saat hujan.

 

                                                                                                                         

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Aku yang Kau Sebut Rumah

 Oleh Auliya Tri Handayani, PBSI 19   Matahari mulai menggema, gelora warna jingga mengawali pagi. Tas punggung tlah siap menjelajahi wa...