Oleh Bulle Rama Yandra, PBSI 2020
Kala itu langit sedang tidak bersahabat dengan alam.
Suara rintik hujan yang terdengar membuat tetesan air mata berjatuhan. Hanya
ada aku dan hujan. Kita berdua meratapi sepinya alam semesta yang mengingat
kenangan. Rintik sendu yang membuatku terlelap dalam kenangan menyenangkan nan
menyedihkan. Dengan kuseduhkan segelas kopi hangat yang membantuku meredakan
tangisan.
Ku tepikan motor yang membawa kami karena hujan
turun. Langit gelap gemuruh halus terdengar disana. Tawa ria walaupun keadaan
yang tak memungkinkan untuk tertawa. Hal sederhana membuat kami bahagia adalah
kunci yang kami pegang agar satu sama lain terjaga. Kelingking kami saling
bersentuhan tanda melakukan perjanjian. Ya, perjanjian yang kami buat agar
tetap bersama hingga hari tua. Setiap saat ku memandangi wajahnya membuatku
sangat bersyukur memilikinya, ‘’kumohon aku ingin tetap bersamanya tuhan’’.
Canda tawa menunggu sang hujan berhenti membuat
waktu terasa cepat walau sudah satu jam lamanya. Sang hujan yang membasahi alam
semesta sudah reda. Segera aku menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan.
Kondisi jalan yang cukup basah membuat ku sangat berhati-hati membawanya.
Segera ku akhiri pembicaraan agar aku fokus mengendarai.
Tiba di lampu merah yang membuat kami berhenti. Kami
melanjutkan obrolan ringan namun penuh arti. Kulihat masih 119 detik lagi untuk
berubah menjadi hijau. Lalu lintas yang sepi membuat dunia ini terasa milik
berdua. Aku melepaskan tangan dan mengganggam tangannya yang sedang memelukku.
Hangat bagai tangan ibu yang selalu ada dalam masa kecilku.
Tiba-tiba suara gaduh terdengar di belakang yang
membuat kami menoleh. BRAK!. Suara tabrakan keras terjadi saat itu. Aku dan dia
terbawa sangat jauh. Kami tergeletak dan saling bertatap dengan wajah yang penuh
harap agar bisa selamat. Air mata kami berjatuhan berharap ambulance segera
datang. Saat kumelihatnya seketika baju biru langit berubah menjadi merah
pekat. Aku mencoba untuk berdiri apa daya diriku tak sanggup. dengan sekuat
tenaga aku coba merangkak dan mengulurkan tangan, tapi kulihat dia sudah
menutup mata. Aku menangis sejadi-jadinya dan tergeletak tak bergerak. Hujan
mengguyur kita berdua.
Kubuka mata melihat sekeliling, tepat disampingku
sosok papa selama ini tak kunantikan kehadirannya. Dia menatapku dengan penuh
arti. Mata yang sedikit berkaca-kaca. Tak lama dia memelukku dengan erat ‘’Papa
harap kamu bisa melewati semua ini’’. Kulepaskan pelukannya kemudian ‘’Maksud
papa bicara seperti ini apa?apa?jawab pah, aku tak butuh pelukan dari papah.’’
Dia memelukku dengan sangat erat. Aku yang kesal saat itu menangis
sejadi-jadinya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain menangis.
Suara petir yang sangat keras membuatku terbangun
dari mimpi buruk yang pernah kualami. Tangisan membahasahi wajahku yang kian
berubah menjadi kenangan pahit. Sekarang, yang paling kubenci adalah saat
hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar