Oleh Riya Indri Yani, 2E
Beberapa hari terakhir ini, rasa takut dan khawatir menghampiriku. Siang dan
malam selalu terbayang seperti apa yang terjadi bila ternyata aku tidak lulus.
Aku tidak tahu harus melakukan apa, terlebih terhadap kedua orang tuaku. Hari
ini adalah dimana pihak dari kepala sekolah mengumumkan kelulusan kelas IX. Aku
berangkat jalan kaki dengan seragam seperti biasa, hanya saja hari dan
pikiranku yang tak seperti biasanya.
Lalu ada memberitahuan kepada
seluruh kelas IX untuk berkumpul di lapangan, sedangkan kelas VII dan VIII
diliburkan. acara dimulai dengan kata sambutan dari bapak kepala sekolah,
kemudian diikuti oleh beberapa wali murid.
Aku dan teman-temanku tidak berkonsentrasi dengan perkataan guru, karena
kami diselimuti dengan rasa cemas, terhadap keputusan akhir yang berselang
beberapa menit lagi.
“Baiklah anak-anak yang kami cintai. Sekarang, hasil kelulusan sudah di
tangan bapak. Sebentar lagi akan tempel di dinding kantor. Untuk itu, mohon
jangan berdesak-desakan ya” ujar Kepala Sekolah.
Mendengar ucapan itu, jantungku berdetak semakin kencang dan tidak karuan.
Kepala sekolah menuju mading sekolah dan menempelkan kertas yang berisi nama yang lulus. Seluruh kelas IX
berbondong-bondong menuju mading. Setelah 15 menit mencari namaku, aku terisak
ketika namaku dinyatakan tidak lulus. Teman-temanku menghampiriku dan ikut
menenangkan.
“Aku tau kamu sedih, namun inilah hasil yang harus kita harus terima.
Bagaimanapun, kamu harus tetap sabar dan rela dengan keputusan yang ada ya
ti..”ucap Putri. Aku tidak menjawab dan terus menangis.
Tiba-tiba suara lantang kepala sekolah yang tergesa-gesa berkata
“Anak-anak semua, mohon maaf atas kesalahan penulisan yang terjadi pada
lembar hasil ujian nasional yang baru saja bapak tempel. Ada kesalahan yang
sangat fatal, dimana saudari Alisia Aninta dinyatakan lulus. Sekali lagi mohon
maaf ”, ucap bapak kepala sekolah.
Disaat itu, aku berhenti menangis dan tersenyum sumringah mendengar bahwa
itu adalah kesalahan dalam penulisan. Seketika aku langsung berdiri bersorak
riang dan gembira.
Aku memeluk teman-temanku yang berada didekatku. Aku dan semua murid kelas
IX dinyatakan lulus ujian nasional dengan persentase 100%. Kebahagiaan yang tak
ternilai harganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar