Selasa, 14 September 2021

Bukan Aku yang Kau Sebut Rumah

 Oleh Auliya Tri Handayani, PBSI 19

 

Matahari mulai menggema, gelora warna jingga mengawali pagi. Tas punggung tlah siap menjelajahi waktu, di mana nasi padang teramat sulit ku temui.

Di dalam kabin berulang kali ku atur pola napas, berusaha tenang dengan memanjatkan ratusan doa dalam benak. Ku serukan perlahan kata basmallah ketika pragumari dengan anggun menyerukan bahwa kabin akan terbang.

"Bismillah."

Kabin pun meluncur mulus, selurus mimpi yang terlontar tak kala umurku belum genap 10 tahun.

Aku pun tiba pada sebuah kota dengan kehidupan nyaris sempurna seperti yang ku bayangkan. Seorang wanita berkulit putih dengan mata lentik bersantai di depanku.

"Hello, what's your name,” Ujarnya membuatku terperanjat membalas tatapannya.

"Hay, i'm resya. You?" Balasku cepat tak mampu melaraskan panik jantung ini.

"Hay, ca. I'm reyn. See you" Ucapnya beranjak pergi.

 

Waktu semakin larut, ku jelajahi sudut kota yang konon, dikatakan sibuk oleh warga nusantara. Sejurus ku berpikir, apakah mimpi yang terucap dalam sujudku benar selurus selayak tergambar diharapku?

Sementara hingga kini,  tak genap 6 bulan aku sudah bersusah payah kerja paruh waktu demi memenuhi kehidupan. Ku sadari, biaya hidup di kota ini berbanding jauh dengan yang ku terima dari ibu ataupun lembaga pendidikan.

Notifikasi kerap kacaukan lamunanku, dengan cepat ku raih handphone seraya membaca beberapa pesan di dalamnya.   Hati terasa mendidih, menatap ratusan pesan mengujarkan bahwa kepergianku belajar dianggap sama layak turis - turis.

Sudah berkali-kali ku jelaskan tapi, mereka bersikukuh bahwa kehidupanku amatlah hedon di negeri ini. Andai mereka tau, semua ini ku beli pada pasar lori dengan berbagai barang lama tumpahan gudang.

Satu pesan mengalihkan pikiranku, sosok wanita dengan kelakuan aneh yang sering ku lupakan tapi begitu membanggakan keberadaanku saat ini. Dalam pesannya ia berkata,

Aca kapan pulang?

Aca sehatkan?

Kapan-kapan kita vidcall ya, aku tunggu walaupun malem juga

Ia kerap kali  mengirimkan note singkat tuk sekadar menanyakan kabar, tak jarang balaspun nihil yang ia dapatkan. Sebab, teramat sibuk ku rangkai kata tuk membalas perkataan mereka.

 

Ditambah lagi hubungan asmaraku baru saja kandas, ku putuskan tuk pulang. Temui rumah dan payung - payung yang tak mengenal terik dan guntur.

Meski kadang, kerapku lupakan.

Aku dan Hujan

 Oleh Bulle Rama Yandra, PBSI 2020

Kala itu langit sedang tidak bersahabat dengan alam. Suara rintik hujan yang terdengar membuat tetesan air mata berjatuhan. Hanya ada aku dan hujan. Kita berdua meratapi sepinya alam semesta yang mengingat kenangan. Rintik sendu yang membuatku terlelap dalam kenangan menyenangkan nan menyedihkan. Dengan kuseduhkan segelas kopi hangat yang membantuku meredakan tangisan.

Ku tepikan motor yang membawa kami karena hujan turun. Langit gelap gemuruh halus terdengar disana. Tawa ria walaupun keadaan yang tak memungkinkan untuk tertawa. Hal sederhana membuat kami bahagia adalah kunci yang kami pegang agar satu sama lain terjaga. Kelingking kami saling bersentuhan tanda melakukan perjanjian. Ya, perjanjian yang kami buat agar tetap bersama hingga hari tua. Setiap saat ku memandangi wajahnya membuatku sangat bersyukur memilikinya, ‘’kumohon aku ingin tetap bersamanya tuhan’’.

Canda tawa menunggu sang hujan berhenti membuat waktu terasa cepat walau sudah satu jam lamanya. Sang hujan yang membasahi alam semesta sudah reda. Segera aku menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan yang cukup basah membuat ku sangat berhati-hati membawanya. Segera ku akhiri pembicaraan agar aku fokus mengendarai.

Tiba di lampu merah yang membuat kami berhenti. Kami melanjutkan obrolan ringan namun penuh arti. Kulihat masih 119 detik lagi untuk berubah menjadi hijau. Lalu lintas yang sepi membuat dunia ini terasa milik berdua. Aku melepaskan tangan dan mengganggam tangannya yang sedang memelukku. Hangat bagai tangan ibu yang selalu ada dalam masa kecilku.

Tiba-tiba suara gaduh terdengar di belakang yang membuat kami menoleh. BRAK!. Suara tabrakan keras terjadi saat itu. Aku dan dia terbawa sangat jauh. Kami tergeletak dan saling bertatap dengan wajah yang penuh harap agar bisa selamat. Air mata kami berjatuhan berharap ambulance segera datang. Saat kumelihatnya seketika baju biru langit berubah menjadi merah pekat. Aku mencoba untuk berdiri apa daya diriku tak sanggup. dengan sekuat tenaga aku coba merangkak dan mengulurkan tangan, tapi kulihat dia sudah menutup mata. Aku menangis sejadi-jadinya dan tergeletak tak bergerak. Hujan mengguyur kita berdua.

Kubuka mata melihat sekeliling, tepat disampingku sosok papa selama ini tak kunantikan kehadirannya. Dia menatapku dengan penuh arti. Mata yang sedikit berkaca-kaca. Tak lama dia memelukku dengan erat ‘’Papa harap kamu bisa melewati semua ini’’. Kulepaskan pelukannya kemudian ‘’Maksud papa bicara seperti ini apa?apa?jawab pah, aku tak butuh pelukan dari papah.’’ Dia memelukku dengan sangat erat. Aku yang kesal saat itu menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain menangis.

Suara petir yang sangat keras membuatku terbangun dari mimpi buruk yang pernah kualami. Tangisan membahasahi wajahku yang kian berubah menjadi kenangan pahit. Sekarang, yang paling kubenci adalah saat hujan.

 

                                                                                                                         

 

Sun & Moon

 Oleh Dian Fitri, PBSI 21

Hampir sembilan puluh sembilan persen wanita di dunia ini pasti mau diprioritaskan, diistimewakan, dan diperlakukan layaknya seorang putri kerajaan oleh lelakinya, ‘kan? Kalau gitu, berarti lo harus cari cowok kayak Julian Pranaja.

Kalian tahu gak siapa yang mewujudkan mimpi masa kecil seorang Naraya Maheswari yang pengen banget jadi princess disney? Ya si Julian. Dia tuh definisi pangeran bagi gue. Bukan cuma karena parasnya yang ganteng dan tajir melintir. Tapi karena sebagimana dia memperlakukan gue layaknya barang mahal yang harus dijaga baik-baik. Selama empat tahun gue pacaran sama Julian, gak pernah tuh gue nangis gara-gara dia. Kalau ngambek sih sering, tapi itu pun bukan karena masalah besar. Salah satu contohnya tuh waktu gue minta izin mau bikin tato, tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung marah. Katanya, “Kalau tetep mau bikin tato, sini kamu sujud dulu dikaki aku.” ya gimana gue gak kesel?! Gue tau kok dia cuma bercanda bilang begitu, tapi emangnya gak ada yang lebih bagus dikit apa dari nyuruh sujud dikaki dia?!

Kata Julian, gue itu ibarat mataharinya dia yang selalu bikin hari-harinya bersinar. Kalau bagi gue, Julian itu ibarat bulan yang bersinar di tengah gelapnya  malam. Karena cuma Julian yang berhasil narik gue dari kelamnya masa lalu gue, dia selalu ada dalam kondisi apapun yang terjadi dihidup gue. Pokoknya cuma Julian deh yang berhasil menempati posisi lelaki terhebat keduasetelah Ayahdihati gue. Teruntuk semesta, tolong jaga Julian dimana pun dia berada, ya.

Jadi hari ini gue cuma ada satu mata kuliah, tapi ternyata dibatalin, katanya dosennya berhalangan hadir. Padahal gue udah buru-buru dateng ke kampus buat ketemu dosen ganteng, eh malah dibatalin... Dan jadilah berakhir dengan gue yang sibuk rebahan sambil denger lagu full volume, kebetulan juga rumah lagi sepi, sampai baru sadar kalau ada missed call lima kali dari Julian. Baru aja mau gue telepon balik, tapi handphone gue udah geter lagi. 

“Halo?”

“Halo Ray? Lagi sibuk ya?”

“Enggak, kok. Kenapa?”

“Minggu ini kita ke pantai aja, mau gak? Tapi hari minggu ya,” emang udah jadi rutinitas kita berdua kalau setiap weekend pasti selalu luangin waktu buat quality time-an, karena kalau hari biasa kita sama-sama sibuk kuliah, ya hitung-hitung lepas penat setelah dijajah tumpukkan tugas kuliah, gitu.

“Ih kok tumben hari minggu?” sebenernya gak masalah sih, cuma aneh aja. Soalnya kata Julian kalau jalan-jalan gitu enaknya di hari sabtu, jadi hari minggunya bisa istirahat. Jarang banget Julian ngajakin jalan hari minggu, kayaknya juga masih bisa dihitung jari.

“Soalnya hari sabtu aku ada urusan,”

Gue ngangguk, tapi langsung sadar kalau ini telepon, Julian gak bisa liat. “Yaudah,”

“Ini kamu lagi ngapain sih? Kok kayaknya rame banget,” lanjut gue.

“Habis rapat himpunan tadi, ini baru aja bubaran,” Julian emang termasuk mahasiswa aktif di kampus, beda banget sama gue. Walaupun tampilannya sedikit begajulan, siapa yang sangka kalau dia ini anak sastra. Julian suka banget sama puisi. Dia punya empat buku tulis  yang isinya kumpulan puisi-puisinya dia dari jaman SMA dan katanya sekarang udah masuk buku ke-lima.

“Oh yaudah, jangan lupa makan! Terus jangan jajan seblak mulu kenapa sih,” dimana-mana mah ceweknya yang hobi jajan seblak ‘kan ya, ini mah kebalik. Julian yang addict banget sama seblak. Hampir setiap hari dia makan seblak, katanya kalau belum makan seblak rasanya badan kayak gak punya tulang, alias lemes banget.

Julian ketawa, “Iyaaaa,”

“Kalau inget.”

Tut!

Sialan! Langsung dimatiin sama dia.

 

***

Sekarang hari minggu, dan sesuai rencana gue mau ke pantai sama Julian. Tadinya kita mau berangkat jam delapan pagi, tapi guenya kesiangan, gue baru bangun jam setengah delapan dan belum nyiapin apapun. Sedangkan  Julian udah stand by di rumah gue dari jam tujuh, bahkan udah sarapan bareng Ayah-Ibu. Setelah udah siap semua, gue langsung bergegas ke ruang tamu nyamperin Julian. Mukanya Julian udah gak enak nih, siap-siap aja dimarah “Lama banget! Keburu tutup tau pantainya,” tuh kan, padahal ini aja masih pagi loh..

Rencananya kita emang gak mau ke pantai yang terlalu jauh sih, cukup ke Anyer aja, gak perlu ke Bali. Berangkat dari pagi biar gak kejebak macet. Dan sesampainya disana pun kita gak langsung main air karena perutnya si Bayi Bongsor udah keroncongan duluan. Padahal belum ada lima jam dia sarapan nasi goreng dua piring di rumah gue tadi. Yaudah, akhirnya kita berdua nyari tempat makan disekitaran pantai.

Waktu terus berlalu, gue dan Julian sengaja nunggu cuaca sampai sedikit lebih sejuk, barulah kita main air. Sebenernya gak ada yang terlalu spesial dari kegiatan kita berdua hari ini. Seperti biasa, setiap lagi quality time berdua gini pasti ada acara random talk-nya. Entah itu  sekedar nanya  how’s life?”, ngomongin masalah perkuliahan, bahkan sampai soal tetangga yang baru nikah tapi udah hamil duluan aja bisa jadi bahan perbincangan kita berdua.

Sekarang udah jam setengah enam sore dan kita lagi duduk di bibir pantai tanpa alas sambil nunggu sunset. Terus tiba-tiba Julian nanya, “Ray, gimana ya kalau ternyata kita emang gak jodoh?” ini dia topik yang selalu gue hindari selama pacaran sama Julian. Tentang gimana hubungan kita ke depannya. Dan jawabannya pun selalu sama, gak akan pernah bisa. Mau gimana pun juga, kita tetep beda.

Gue cuma bisa terkekeh mendengar pertanyaan Julian, “Kan kita emang bukan jodoh, Jul.” kata gue setengah bercanda, padahal hati gue nahan sesek. Julian cuma senyum, “Kamu beneran gak mau ikut aku aja?” gue tau maksudnya Julian tuh ngajak gue buat ikut kepercayaan dia. Empat tahun gue pacaran sama Julian, gak pernah lepas dari gosipan orang-orang tentang perbedaan agama gue dan Julian. Terus kenapa gak putus aja? Ini karena gue selalu berpegang teguh sama prinsip ‘jalanin dulu aja, gimana ke depannya biar jadi urusan yang diatas’. Karena itu gue jadi percaya pasti akan ada jalan keluar untuk hubungan gue dan Julian ke depannya.

Kalian tahu gak apa pilihan terberat dalam hidup? Bukan Harta atau Tahta, tapi antara Meninggalkan atau mempertahankan.

Dan disini yang harus gue pilih adalah meninggalkan Tuhan gue demi seseorang atau mempertahankan keyakinan gue demi Tuhan. Gak perlu dijawab, bahkan anak kecil pun tahu jawabannya. Ibu pernah ngomong ke gue, “Dosa terbesar adalah dia yang rela menduakan Tuhan-nya demi kepentingannya sendiri.” gue gak mau jadi anak pembangkang, apalagi sama Tuhan. Tapi di lain sisi, gue juga gak mau kehilangan Julian.

Julian natap gue, juga sebaliknya, entah kenapa rasanya tatapan dia kali ini dalem banget, “Kalau misalnya sekarang aku minta putus, kira-kira kamu bakal benci aku gak?” tanyanya.

Gue mengalihkan pandangan dan mengubah posisi duduk menjadi bersila. “Enggak, lah. Kan itu cuma misalnya,” gue cuma bisa nyengir doang, padahal dalam hati udah nahan nangis. Bahkan gue jadi gak berani buat natap dia balik.

Hening,

Julian menghela nafas berat, “Aku dijodohin, Ray.” jedanya, “Bunda minta aku buat ta’aruf-an sama anak temennya,”

Duarrr!

Rasanya kayak disambar petir, badan gue langsung kaku. Masih coba berpikir positif kalo dia cuma ngerjain gue. “Apa sih! Bercandanya gak lucu ah, Jul!” kata gue masih sambil ketawa-tawa. Tapi Julian cuma diem aja, seakan gak membenarkan perkataan gue. “Aku serius, Raya. Sebenernya hari sabtu kemarin ada pertemuan keluarga aku sama keluarga temen Bunda, ngomongin soal perjodohan itu.” Julian semakin menunduk, dan bisa gue denger kalau nada bicara Julian kayak nahan sesuatu. Apa ya? Amarah mungkin? Entah siapa yang harus gue salahkan disini. Seakan-akan takdir lagi mempermainkan nasib kita berdua sekarang.

Tanpa gue sadari, ternyata air mata gue udah netes dari tadi. Dengan cepat gue langsung mengusapnya dan mengalihkan pandangan dari Julian. Tapi semakin gue nahan nangis, tenggorokan gue semakin tercekat, “Jadi beneran mau minta putus ya?” tanya gue yang masih berusaha menormalkan nada bicara gue. “Ini quality time terakhir kita ya, Jul?”

“Enggak! Kita masih bisa” omongan Julian terpotong, bukannya lanjutin dia malah makin nunduk, “Maafmaaf aku ingkar janji, Ray,”

Janji? Oh iya dulu Julian pernah janji mau bareng sama gue terus apapun resikonya. Tapi ya emang apa sih yang bisa dipegang dari omongan anak SMA saat itu?

Gue mengangguk sambil senyum, “Gapapa, dari awal emang kita yang terlalu nekat lawan takdir Tuhan, Jul.” kata gue. Julian mendongak dan tatapan mata kita akhirnya bertemu, dia langsung megang tangan gue. “Janji harus bahagia ya, Ray? Cari laki-laki yang pantas jadi pendamping hidup kamu kelak, cari yang seiman dan lebih baik dari aku.” Gue mengangguk, “Pasti. Semoga pilihan Bunda kamu tepat ya. Maaf aku gak bisa ikutin apa yang kamu mau. Tolong titip salam buat Bunda ya, bilang makasih dari aku karena udah izinin anaknya untuk nemenin aku selama empat tahun belakangan ini.” ucap gue yang masih berusaha tegar. Tapi pada kenyataannya gue gak sekuat itu. Gimana kalau hidup gue bakalan hancur lagi kalau gak ada Julian? Apa gue bakalan terjerumus ke lubang yang sama lagi setelah penyelamat gue pergi?

Tepat saat sang fajar mulai berpamitan, Julian meluk gue. Emosi yang sejak tadi ditahan langsung melebur gitu aja. Dan ini pertama kalinya gue liat Julian nangis. Gue gak tahu harus marah, menyesal, atau bahkan bersyukur karena semesta udah berbaik hati mengizinkan gue bertemu Julian. Kalau dipikir-pikir lagi, emang seharusnya Matahari dan Bulan itu hanya tercipta untuk saling melengkapi. Mereka gak bisa hidup bersama. Dari kisah mereka pun kita jadi tahu, bahwa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Teruntuk Julian Pranaja, makasih udah hadir dihidup gue, makasih karena pernah menjadi salah satu alasan dibalik bahagianya gue. Lo adalah lelaki terbaik dan terhebat yang pernah gue kenal setelah Ayah. Gue gak mungkin dendam sama Bunda cuma karena udah misahin kita berdua. Selama ini Bunda udah baik banget sama gue, tapi balik lagi ke realita bahwa semua orang tua di dunia pasti mau yang terbaik buat anaknya.

Makasih udah bersedia menghabiskan waktu empat tahun lo sama gue ya, Jul. Mungkin mulai sekarang atau bahkan sampai seterusnya, Julian beserta kenangannya akan jadi patah hati terindah gue.

 

 

    SELESAI

SURAT KECIL UNTUK TUAN

 

 

 

Oleh Evelyn Matilda Gracela Silaen, 4B

 

Dari langit; Untuk tuan yang namanya tak dapat ku sebutkan.

 

~

Tak apa ya hati? Hari ini kamu harus kembali mengambil robekan-robekan ingatan yang sudah lama kamu simpan di dalam perasaan.

 

~

Saya harap ketika kamu menemukan surat ini, kita sedang menatap langit yang sama, sambil mendengarkan lagu yang sebenarnya berirama, namun hati berkata, "Cukup, saya muak dengan semuanya."

 

Setelah melewati jutaan detik, ribuan jam bahkan ratusan malam, akhirnya saya memutuskan untuk menulis sepucuk surat ini yang maaf, mungkin diksi dan isi didalamnya tak se-berani Chairul Anwar ataupun se-indah Sapardi Djoko Darmono.

 

~

Sebenarnya ini tidak mudah, meluapkan hal-hal yang sudah lama terpendam, namum belum juga

 

teredam, sekiranya ada bertahun-tahun lamanya.

Namun, sebelum kamu melanjutkan ke paragraf selanjutnya, izinkan saya untuk pamit terlebih dahulu.

Terima kasih pernah bertamu di rumah saya yang sudah lama berdebu.

Maaf, kalau saya tidak pernah menjamu, karena kamu tidak pernah datang lagi, setelah hari itu.

 

Sepertinya, sedikit pembukaan itu saja sudah berhasil membuka kembali jahitan dan juga kenangan yang sudah lama saya tanam dalam-dalam. Namun itu tidak akan meruntuhkan benteng pertahanan yang sedari lama saya pertahankan karena orang-orang yang berhasil menjatuh bangunkan kehidupan. Kalau begitu, terima kasih kepada kalian.

 

Sudahlah, tidak perlu bertele-tele, saya rasa kamu pasti sudah paham dengan jalan ceritanya, atau pun inti dari surat ini. Sudah terpampang nyata di awal pembukaan, bukan?

 

~

Singkat ceritanya seperti ini, gadis kecil yang

baru saja beranjak dewasa itu, mengalami patah hati kali pertamanya. Lalu, dirimu hadir di dalam kehidupannya. Sebenarnya, dirimu tidak datang dan menawarkan diri, hanya aku yang mengundangmu masuk ke dalam kehidupanku. Lalu membuat cerita, seolah-olah kita adalah dua insan yang sengaja dipertemukan untuk saling membahagiakan. Padahal, bukan seperti itu jalan ceritanya. Aku mengagumimu, kamu tidak. Aku mengidolakanmu, kamu tidak. "AKU MENCINTAIMU, DAN KAMU TIDAK , BAHKAN  SEPERTINYA TIDAK AKAN PERNAH."

 

Sedih, bukan? Menjalani kisah cerita yang ditulis sendiri, merangkai alur ceritanya sendiri, dan menjadi tokoh utama dalam ceritanya itu sendiri.

Kamu? Hanya sebagai tokoh figuran, disini akulah yang berperan. Tak apa, kamu tak perlu merasa bersalah. Aku hanya tak mau membuat mu lelah jika harus berperan sebagai tokoh utama juga. Walaupun aku tahu, kamu takkan pernah menghiraukannya.

 

Ini kali ke-4 tahun aku menulis, sekaligus menjalani peran dalam ceritaku tersebut. Aku

tahu kamu menyadari, namun kamu tidak pernah memahami. Atau mungkin, kamu menganggap perasaanku hanyalah sebuah obsesi. Atau yang lebih parahnya, kamu tidak peduli? Apapun itu, aku akan tetap mencintaimu, dulu.

 

Sekarang aku akan berhenti, sesuai dengan awal pembukaan dari surat ini. Berhenti dari semua yang berkenaan tentang dirimu. 

 

Semua terasa baik-baik saja walau tanpamu. Karena memang nyatanya, kamu tidak pernah ada. Terima kasih, ya.

Hari Kelulusan


Oleh Riya Indri Yani, 2E

Beberapa hari terakhir ini, rasa takut dan khawatir menghampiriku. Siang dan malam selalu terbayang seperti apa yang terjadi bila ternyata aku tidak lulus. Aku tidak tahu harus melakukan apa, terlebih terhadap kedua orang tuaku. Hari ini adalah dimana pihak dari kepala sekolah mengumumkan kelulusan kelas IX. Aku berangkat jalan kaki dengan seragam seperti biasa, hanya saja hari dan pikiranku yang tak seperti biasanya.

Lalu ada memberitahuan  kepada seluruh kelas IX untuk berkumpul di lapangan, sedangkan kelas VII dan VIII diliburkan. acara dimulai dengan kata sambutan dari bapak kepala sekolah, kemudian diikuti oleh beberapa wali murid.

Aku dan teman-temanku tidak berkonsentrasi dengan perkataan guru, karena kami diselimuti dengan rasa cemas, terhadap keputusan akhir yang berselang beberapa menit lagi.

“Baiklah anak-anak yang kami cintai. Sekarang, hasil kelulusan sudah di tangan bapak. Sebentar lagi akan tempel di dinding kantor. Untuk itu, mohon jangan berdesak-desakan ya” ujar Kepala Sekolah.

Mendengar ucapan itu, jantungku berdetak semakin kencang dan tidak karuan. Kepala sekolah menuju mading sekolah dan menempelkan kertas yang  berisi nama yang lulus. Seluruh kelas IX berbondong-bondong menuju mading. Setelah 15 menit mencari namaku, aku terisak ketika namaku dinyatakan tidak lulus. Teman-temanku menghampiriku dan ikut menenangkan.

“Aku tau kamu sedih, namun inilah hasil yang harus kita harus terima. Bagaimanapun, kamu harus tetap sabar dan rela dengan keputusan yang ada ya ti..”ucap Putri. Aku tidak menjawab dan terus menangis.

Tiba-tiba suara lantang kepala sekolah yang tergesa-gesa berkata

“Anak-anak semua, mohon maaf atas kesalahan penulisan yang terjadi pada lembar hasil ujian nasional yang baru saja bapak tempel. Ada kesalahan yang sangat fatal, dimana saudari Alisia Aninta dinyatakan lulus. Sekali lagi mohon maaf ”, ucap bapak kepala sekolah.

Disaat itu, aku berhenti menangis dan tersenyum sumringah mendengar bahwa itu adalah kesalahan dalam penulisan. Seketika aku langsung berdiri bersorak riang dan gembira.

Aku memeluk teman-temanku yang berada didekatku. Aku dan semua murid kelas IX dinyatakan lulus ujian nasional dengan persentase 100%. Kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

Bukan Aku yang Kau Sebut Rumah

 Oleh Auliya Tri Handayani, PBSI 19   Matahari mulai menggema, gelora warna jingga mengawali pagi. Tas punggung tlah siap menjelajahi wa...